28.11.07

Jangan Tunggu Hari Esok Untuk Mengatakan Kepadanya...


Segalanya berawal ketika saya masih berumur 6 th.
Ketika saya sedang bermain di halaman rumah saya di California, saya bertemu
seorang anak laki-laki. Dia seperti anak laki-laki lainnya yang menggoda
saya dan kemudian saya mengejarnya dan memukulnya.

Setelah pertemuan pertama dimana saya memukulnya, kami selalu bertemu dan
saling memukul satu sama lain di batas pagar itu.
Tapi itu tidaklah lama. Kami selalu bertemu di pagar itu dan kami selalu
bersama. Saya menceritakan semua rahasia saya.

Dia sangat pendiam... dia hanya mendengarkan apa yang saya katakan.
Saya menganggap dia enak diajak bicara dan saya dapat berbicara kepadanya
tentang apa saja.

Di sekolah, kami memiliki teman-teman yang berbeda tapi ketika kami pulang
kerumah, kami selalu berbicara tentang apa yang terjadi di sekolah.

Suatu hari,saya bercerita kepadanya tentan anak laki-laki yang saya sukai
tetapi telah menyakiti hati saya.... Dia menghibur saya dan mengatakan
segalanya akan beres.

Dia memberikan kata-kata yang mendukung dan membantu saya untuk
melupakannya.
Saya sangat bahagia dan menganggapnya sebagai teman sejati. Tetapi saya tahu
bahwa sesungguhnya ada yang lainnya dari dirinya yang saya suka.

Saya memikirkannya malam itu dan memutuskan kalau itu adalah rasa
persahabatan.

Selama SMA dan semasa kelulusan, kami selalu bersama dan tentu saja saya
berpikir bahwa ini adalah persahabatan. Tetapi jauh di lubuk hati, saya tahu
bahwa ada sesuatu yang lain.

Pada malam kelulusan, meskipun kami memiliki pasangan sendiri-sendiri,
sesungguhnya saya menginginkan bahwa sayalah yang menjadi pasangannya.

Malam itu, setelah semua orang pulang, saya pergi ke rumahnya untuk
mengatakannya.

Malam itu adalah kesempatan terbesar yang saya miliki tapi saya hanya duduk
di sana dan memandangi bintang bersamanya dan bercakap-cakap tentang
cita-cita kami. Saya melihat ke matanya dan mendengarkan ia bercerita
tentang impiannya. Bagaimana dia ingin menikah dan sebagainya. Dia bercerita
bagaimana dia ingin menjadi orang kaya dan sukses. Yang dapat saya lakukan
hanya menceritakan impian saya dan duduk dekat dengan dia.

Saya pulang ke rumah dengan terluka karena saya tidak mengatakan perasaan
saya yang sebenarnya. Saya sangat ingin mengatakan bahwa saya sangat
mencintainya tapi saya takut.

Saya membiarkan perasaan itu pergi dan berkata kepada diri saya sendiri
bahwa suatu hari saya akan mengatakan kepadanya mengenai perasaan saya.

Selama di universitas, saya ingin mengatakan kepadanya tetapi dia selalu
bersama-sama dengan seseorang. Setelah lulus, dia mendapatkan pekerjaan di
New York. Saya sangat gembira untuknya, tapi pada saat yang sama saya sangat
bersedih menyaksikan kepergiannya. Saya sedih karena saya menyadari ia pergi
untuk pekerjaan besarnya. Jadi... saya menyimpan perasaan saya untuk diri
saya sendiri dan melihatnya pergi dengan pesawat.

Saya menangis ketika saya memeluknya karena saya merasa seperti ini adalah
saat terakhir.

Saya pulang ke rumah malam itu dan menangis.
Saya merasa terluka karena saya tidak mengatakan apa yang ada di hati saya.

Saya memperoleh pekerjaan sebagai sekretaris dan akhirnya menjadi seorang
analis komputer.

Saya sangat bangga dengan prestasi saya. Suatu hari saya menerima undangan
pernikahan.

Undangan itu darinya. Saya bahagia dan sedih pada saat yang bersamaan.

Sekarang saya tahu kalau saya tak akan pernah bersamanya dan kami hanya bisa
menjadi teman. Saya pergi ke pesta pernikahan itu bulan berikutnya. Itu
adalah sebuah peristiwa besar.

Saya bertemu dengan pengantin wanita dan tentu saja juga dengannya.

Sekali lagi saya merasa jatuh cinta. Tapi saya bertahan agar tidak
mengacaukan apa yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi mereka.

Saya mencoba bersenang-senang malam itu, tapi sangat menyakitkan hati
melihat dia begitu bahagia dan saya mencoba untuk bahagia menutupi air mata
kesedihan yang ada di hati saya.

Saya meninggalkan New York merasa bahwa saya telah melakukan hal yang tepat.
Sebelum saya berangkat... tiba-tiba dia muncul dan mengucapkan salam
perpisahan dan mengatakan betapa ia sangat bahagia bertemu dengan saya.

Saya pulang ke rumah dan mencoba melupakan semua yang terjadi di New York.
Kehidupan saya harus terus berjalan.

Tahun-tahun berlalu... kami saling menulis surat dan bercerita mengenai
segala hal yang terjadi dan bagaimana dia merindukan untuk berbicara dengan
saya.

Pada suatu ketika, dia tak pernah lagi membalas surat saya. Saya sangat
kuatir mengapa dia tidak membalas surat saya meskipun saya telah menulis 6
surat kepadanya..

Ketika semuanya seolah tiada harapan, tiba-tiba saya menerima sebuah catatan
kecil yang mengatakan : "Temui saya di pagar dimana kita biasa
bercakap-cakap"

Saya pergi ke sana dan melihatnya di sana. Saya sangat bahagia melihatnya
tetapi dia sedang patah hati dan bersedih. Kami berpelukan sampai kami
kesulitan untuk bernafas.

Kemudian ia menceritakan kepada saya tentang perceraian dan mengapa dia
tidak pernah menulis surat kepada saya. Dia menangis sampai dia tak dapat
menangis lagi... Akhirnya kami kembali ke rumah dan bercerita dan tertawa
tentang apa yang telah saya lakukan mengisi waktu. Akan tetapi, saya tetap
tidak dapat mengatakan kepadanya bagaimana perasaan saya yang sesungguhnya
kepadanya.

Hari-hari berikutnya... dia gembira dan melupakan semua masalah dan
perceraiannya. Saya jatuh cinta lagi kepadanya. Ketika tiba saatnya dia
kembali ke New York, saya menemuinya dan menangis. Saya benci melihatnya
harus pergi. Dia berjanji untuk menemui saya setiap kali dia mendapat libur.

Saya tak dapat menunggu saat dia datang sehingga saya dapat bersamanya. Kami
selalu bergembira ketika sedang bersama.

Suatu hari dia tidak muncul sebagaimana yang telah dijanjikan. Saya berpikir
bahwa mungkin dia sibuk. Hari berganti bulan dan saya melupakannya.

Suatu hari saya mendapat sebuah telepon dari New York. Pengacara mengatakan
bahwa ia telah meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil dalam perjalanan ke
airport. Hati saya patah. Saya sangat terkejut akan kejadian ini . Sekarang
saya tahu... mengapa ia tidak muncul hari itu. Saya menangis semalaman.

Air mata kesedihan dan kepedihan. Bertanya-tanya mengapa hal ini bisa
terjadi terhadap seseorang yang begitu baik seperti dia?

Saya mengumpulkan barang-barang saya dan pergi ke New York untuk pembacaan
surat wasiatnya. Tentu saja semuanya diberikan kepada keluarganya dan mantan
istrinya. Akhirnya saya dapat bertemu dengan mantan istrinya lagi setelah
terakhir kali saya bertemu pada pesta pernikahan. Dia menceritakan bagaimana
mantan suaminya. Tapi suaminya selalu tampak tidak bahagia.

Apapun yang dia kerjakan... tidak bisa membuat suaminya bahagia seperti saat
pesta pernikahan mereka. Ketika surat wasiat dibacakan, satu-satunya yang
diberikan kepada saya adalah sebuah diary.

Itu adalah diary kehidupannya. Saya menangis karena itu diberikan kepada
saya. Saya tak dapat berpikir... Mengapa ini diberikan kepada saya?
Saya mengambilnya dan terbang kembali ke California.

Ketika saya di pesawat, saya teringat saat-saat indah yang kami miliki
bersama.

Saya mulai membaca diary itu. Diary dimulai ketika hari pertama kami
berjumpa. Saya terus membaca sampai saya mulai menangis. Diary itu bercerita
bahwa dia jatuh cinta kepada saya di hari ketika saya patah hati.

Tapi dia takut untuk mengatakannya kepada saya.

Itulah sebabnya mengapa dia begitu diam dan mendengarkan segala perkataan
saya. Diary itu menceritakan bagaimana dia ingin mengatakannya kepada saya
berkali-kali, tetapi takut. Diary itu bercerita ketika dia ke New York dan
jatuh cinta dengan yang lain. Bagaimana dia begitu bahagia ketika bertemu
dan berdansa dengan saya di hari pernikahannya.

Dia berkata bahwa ia membayangkan bahwa itu adalah pernikahan kami.
Bagaimana dia selalu tidak bahagia sampai akhirnya harus menceraikan
istrinya. Saat-saat terindah dalam kehidupannya adalah ketika membaca huruf
demi huruf yang saya tulis kepadanya.

Akhirnya diary itu berakhir dengan tulisan, "Hari ini saya akan mengatakan
kepadanya kalau saya mencintainya"

Itu adalah hari dimana dia terbunuh. Hari dimana pada akhirnya saya akan
mengetahui apa yang sesungguhnya ada dalam hatinya.

Jika engkau mencintai seseorang, "JANGAN TUNGGU ESOK HARI UNTUK MENGATAKAN
KEPADANYA" karena esok hari itu... mungkin takkan pernah ada..


>>www.prayoga.net

Tidak ada komentar: